Lindungi Dokumen Dari Pembajakan Intelektual

Di era komputer ini, membuat dokumen menjadi begitu mudah dengan aplikasi misal Microsoft Office atau Open Office.  Namun selain kemudahan, juga ada kekurangannya yaitu hasil karya kita begitu gampang untuk di-copy-paste oleh orang lain dan dapat diakui sebagai karyanya.  Karena itulah dalam kondisi tertentu, kita ingin melindungi dokumen kita agar tidak mudah di-copy-paste atau dapat juga disebut pembajakan intelektual.

Sebenarnya, tidak ada cara pasti agar dokumen tidak dapat dibajak karena maling biasanya ada saja akalnya.  Namun ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk bisa meminimalisir resiko itu.

Tulisan ini saya bagi menjadi dua.  Tulisan pertama ini membahas garis besarnya dan beberapa tips cara melindungi dokumen dari pembajakan, sedangkan tulisan kedua nanti akan membahas secara teknis.

Oke.  Langsung saja.

1. Simpan dalam format PDF atau format Image/Gambar

Jika kita memberikan dokumen kita dalam bentuk dokumen langsung dalam bentuk Word atau Excel misalnya, maka dapat dengan mudah dibajak oleh orang lain.  Sedangkan jika kita proteksi dengan password, maka dokumen juga tidak dapat dibaca oleh orang yang bersangkutan.

Salah satu alternatifnya adalah dokumen diberikan dalam format PDF.  Dokumen PDF ini dapat kita kontrol keamanannya, misal kita atur agar isi dokumen PDF ini tidak dapat di-copy oleh pembaca sehingga tidak dapat pula di-paste ke file lain.  Bahkan dapat juga kita atur agar pembacanya tidak dapat mencetak (print) isi dokumen PDF ini.

Alternatif lain adalah menggunakan format gambar seperti JPEG, TIFF, PNG, dan lain-lain.  Menggunakan format gambar berarti tulisan-tulisan kita akan disimpan dalam bentuk gambar.  Dapat dimisalkan tulisan kita difoto, kemudian foto tersebut yang diberikan ke orang lain.  Karena berupa foto, jadi tidak dapat di-copypaste oleh orang lain.

2. Beri Watermark

Dokumen yang disimpan menggunakan format PDF yang tidak bisa di-copy ataupun menggunakan format gambar, masih dapat di-crop atau dipotong untuk diambil sebagian sebagai gambar, kemudian bagian tersebut bisa dimasukkan dalam presentasi powerpoint misalnya.  Untuk melindungi dokumen kita dari hal tersebut, kita dapat menggunakan Watermark.

Watermark adalah tulisan atau gambar sebagai latar belakang pada dokumen, seperti pada contoh ilustrasi.  Gambar watermark dapat juga berupa logo bisnis atau logo instansi  sebagai identitas Anda sebagai pembuat dokumen.  Jika dokumen yang memiliki watermark ini di-crop,  maka gambar hasil crop tersebut tetap akan ada watermark-nya sehingga identitas Anda tetap akan ada.

Itulah dua tips untuk meminimalisir resiko dokumen hasil karya kita dibajak.  Namun sekali lagi, tips di atas hanyalah untuk meminimalisir resiko saja, tetapi tidak dapat melindungi 100%.  Masih ada cara untuk melakukan pembajakan intelektual dokumen seperti menggunakan teknologi OCR, walaupun tidak gampang dan tetap tergantung kecanggihan OCR-nya.

Untuk teknis langkah-langkah penerapan tips-tips tersebut di atas akan saya bahas pada tulisan saya berikutnya.

Bagikan/Share:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *